PELUANG MENJADI DISTRIBUTOR
NARAYA MILK SOAP
Terbuat dari :
Susu Sapi Murni, Minyak Zaitun, Minyak Kelapa, Madu dan Pewangi.
Khasiat :
  1. mencerahkan muka kusam,
  2. mengurangi flek hitam pada wajah,
  3. menghilangkan bekas cacar,
  4. jerawat,
  5. komedo,
  6. gatal-gatal,
  7. bau badan,
  8. serta menjadikan kulit bersih dan lembut sepanjang hari.
Cocok untuk segala jenis kulit

Informasi Produk

NARAYA Milk Soap terbuat dari :

    - Susu Sapi Murni,
    - Minyak Zaitun,
    - Minyak Kelapa,
    - Madu, 
    - Pewangi.

Khasiat:
  • Mencerahkan muka kusam
  • Mengurangi kerutan pada wajah
  • Mengurangi flek hitam pada wajah
  • Mengurangi bekas cacar
  • Menyembuhkan jerawat
  • Menghilangkan komedo
  • Menghilangkan gatal-gatal
  • Mengurangi bau badan
  • Menjadikan kulit bersih
  • Menjadikan kulit lembut
  • Menjadikan kulit halus

    Ciri khas NARAYA Milk Soap :


    1. Jenis Sabun : Padat
    2. Bentuk : Bulat
    3. Berat : 80 gram
    4. Aroma : Dominan Susu dengan aroma melati

    Ciri Khas NARAYA Milk Soap :

    1. BUSA SEDIKIT, busa yang sedikit sering menjadi pertanyaan konsumen, penyebab sedikitnya busa NARAYA Milk Soap karena bahan-bahan yang menjadi bahan baku NARAYA Milk Soap adalah bahan-bahan alami. Busa yang sedikit didapat dari NaOH yang diberikan sedikit untuk menghasilkan sedikit busa.

    2. WANGI KURANG, Aroma yang dominan dari NARAYA Milk Soap adalah aroma susu berpadu dengan wangi melati, kuatnya aroma susu sapi murni akan tetap dominan dibandingkan dengan pewangi.

    ------------------------------------------------

    Sabun, Deterjen, dan Busa

    Dulu dosen pengajar Dasar-dasar Rekayasa pernah berkomentar di sela kuliah, "Kalo pengen kulitnya bersih banget, mandi aja pake deterjen. Dijamin bersih, soale lemak-lemak kulit keangkat semua". Saya hanya tertawa waktu itu.

    Lama setelah kuliah itu berlalu, saya sadar bahwa sayalah yang terlalu lugu (bodoh mungkin lebih tepat). Sang dosen samasekali tidak bergurau. Pada kenyataannya, selama belasan tahun saya mandi dengan deterjen! Dan sekarang saya menertawakan diri yang saat itu tertawa. "Kenapa dulu gue ketawa ya?"

    Pernah menyaksikan iklan suatu pembersih wajah buatan Jepang? Pada saat audio pengantar iklan menyebutkan 'formulanya ramah di kulit' maka tayangannya berupa busa yang disentuh dengan tangan beserta tulisan 'skin friendly formula'.

    Jujur, saya bingung. Apa hubungannya antara busa dan formula ya? Seolah berlaku premis: Jika (produk menghasilkan banyak) busa maka (formula produk) lembut.
    Bahan yang digunakan untuk menghasilkan busa JUSTRU (biasanya) tidak ramah di kulit!

    Saya pernah membandingkan busa yang dihasilkan oleh sabun batangan biasa (tanpa klaim yang berkaitan dengan kelembutan apapun) dan sabun dengan merek tersebut. Menggunakan shower puff, ternyata secara kenampakan busa yang dihasilkan sama saja.

    Intinya, jika anda ingin mencari produk pembersih dengan formula yang ramah di kulit, tinjau komposisi dan bahan aktifnya, bukan dari busanya. Hindari produk yang mengandung bahan pembuat busa karena biasanya bahan ini juga bertindak sebagai surfaktan yang tidak ramah pada kulit.

    Tulisan saya secara singkat dan padat berhenti di sini. Selanjutnya saya akan mendongeng sesuai judul, dengan penjelasan yang mungkin bikin pusing dengan banyak istilah kimia.

    Dari manakah produk pembersih kulit dinilai lembut? Dari pH yang mendekati pH kulit? Dari jenis pembersih yang digunakan? Dari formula yang digunakan? Dari pelembab yang ditambahkan? Dari 'rasa' di kulit setelah penggunaan? Atau dari lembutnya busa?

    Dari mana anda tahu itu bukan sabun? (jika anda membeli suatu produk karena tagline 'bukan sabun') Dari mana anda tahu pH produk dan pH kulit? Dari mana anda tahu tentang formula anu lembut? Dari mana anda tahu produk yang anda beli memberi apa yang anda inginkan? Dari mana hubungan antara busa dan formula?

    Bingung? Berarti anda kini mulai memikirkannya. Bagus. Singkirkan dulu doktrin dari iklan-iklan itu. Hapus dulu bingungnya, saya mau melanjutkan dongeng.

    Sabun.

    Sabun itu apa sih? Sabun adalah surfaktan yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan, bekerja dengan bantuan air. Sedangkan surfaktan merupakan singkatan dari surface active agents, bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di antarmuka fasa (baik cair-gas maupun cair-cair) sehingga mempermudah penyebaran dan pemerataan.

    Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya digunakan adalah NaOH (natrium/sodium hidroksida) dan KOH (kalium/potasium hidroksida). Asam lemak yang berikatan dengan natrium atau kalium inilah yang kemudian dinamakan sabun.

    Bahan baku pembuatan sabun berupa minyak atau lemak, baik hewani maupun nabati. Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun 'keras'. Sedangkan jika yang digunakan adalah KOH, maka produk reaksi berupa sabun 'lunak'.

    Jangan bingung dengan istilah keras dan lunak. Ini istilah kimiawi, seperti air sadah dan air lunak. Bukan mengacu pada kerasnya sabun jika digunakan untuk memukul sesuatu.

    Masalah mulai ruwet ketika kata 'sabun' telah digunakan sebagai 'nama' bagi pembersih (padat/batangan, krim maupun cair). Bahkan cairan pembersih yang tidak memiliki bahan aktif sabun pun kita kenal sebagai sabun.

    Berlaku pula sebaliknya. Coba anda perhatikan pembersih yang anda gunakan. Apakah benar-benar tidak mengandung sabun (jika itu yang dikatakan produsen)?

    Deterjen.

    Akibat pergeseran arti tadi, kita tak sadar bahwa hampir semua macam 'sabun' yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya adalah deterjen.

    Apa itu deterjen? Deterjen adalah sebuah (atau gabungan beberapa) senyawa, yang memudahkan proses pembersihan (cleaning). Istilah deterjen kini dipakai untuk membedakan antara sabun dengan surfaktan jenis lainnya.

    Deterjen dalam pengertian kimia bukanlah R*nso, A*tack, dan kawan-kawannya. Produk-produk itulah yang mengandung deterjen, dan kemudian malah menggantikan deterjen sebagai makna generik (misalnya: Aspirin ketimbang asam asetilsalisilat). Ya begitu. Salah kaprah.

    Kenapa jadi deterjen? Awalnya kan sabun? Karena harga deterjen lebih murah, lebih efektif (karena tetap bekerja dengan baik pada air sadah), dan lebih mudah dibuat.

    Busa.

    Ada bahan yang efektif menghasilkan busa dan harganya murah. Namanya sodium laureth sulfate (SLS) atau sodium lauryl ether sulfate (SLES), sama saja. Senyawa ini adalah juga surfaktan. Alternatif penggantinya adalah sodium dodecyl sulfate atau ammonium lauryl sulfate (yang lebih sering saya lihat di label produk).

    Penghasil busa ini dapat membantu pemerataan produk dengan lebih baik saat digunakan, misalnya saat mencuci rambut atau menggosok gigi. Sebagai kompensasinya, ketika dibilas, produk ini tidak hanya membersihkan area yang terpapar tapi juga mengangkat kelembapan dari lapisan atas kulit (epidermis, sang pelayan kedap air).

    Lalu, apa hubungannya antara busa dan kelembutan? Tidak tahu. Tolong anda tanyakan pada produsennya (jika memang ingin bertanya) dan nanti beritahu saya.

    Oh ya, kilas balik sebentar ke produk 'bukan sabun' tadi. Produk ini mengandung surfaktan, tapi meninggalkan rasa lembap di kulit. Kok bisa? Bisa, karena ditambahkan gliserin, komponen penyusun minyak dan lemak. Makanya ada rasa licin walau sudah dibilas berulang-ulang.